Wednesday, May 17, 2006

HUMOR LAKI-LAKI

HUMOR LAKI-LAKI

Kebanyakan dari kita, kalau laki-laki, tentu pernah berkumpul sesama lelaki. Pada kesempatan seperti itu, paling tidak menurut pengalamanku, sangat jamak percakapa berubah menjadi pertukaran canda jorok.
Lelucon itu diceritakan dengan senyum simpul atau seringai, dan didengarkan dengan penuh semangat. Biasanya gerombolan pria ini menolak kehadiran seorang perempuan di antara mereka, karena dianggap akan menghalangi pertukaran guyonan itu dan seringkali akan merusak keriangan pertemuan tersebut.
Tetapi coba pikirkan. Mengapa canda seperti itu musti diceritakan juga? Mengapa guyonan itu dianggap lucu, dan mengapa para lelaki itu (jika candanya diceritakan dengan baik) pasti akan tertawa? Mengapa bahkan pria yang paling terhormat dan paling santun sekalipun juga ikut mengeluarkan candaan atau mendengarkan humor porno itu? Persis seperti yang dikatakan Shakespeare, “Satu sentuhan yang pas dan seluruh dunia laki-laki menjadi saudara.”
Akan tetapi sungguhkah ini sebuah misteri? Seks dan eliminasi – dua tali yang mengikat canda semacam itu – selalu ada bersama kita. Tak terhindarkan, meskipun buku-buku dan kursus etiket dan kuliah para feminis menegaskan kalau keduanya tidak ada.
Kita tidak bisa melepaskan diri darinya. Kita terjerembab ke dalam siksaaan canda jorok itu.
Anda tentu pernah mendengar canda miring soal seorang pria yang tersasar masuk toilet wanita dan ketika dimarahi ia membalas, “Ini juga untuk wanita!”? Begitu pula, apakah ketika Anda lari-lari kecil menuju kamar kecil, apakah itu karena keinginan kuat untuk mencuci “si kecil” Anda? Apakah Anda ingin istirahat sejenak ketika masuk “restroom”? Atau apakah Anda hendak memperbaiki jas, dasi, kemeja dan sepatu Anda ketika masuk ruangan sempit yang di depannya tertulis “Gentlemen”? Tidak ada satu pun makhluk beradab yang berasal dari planet Mars yang akan mengerti fungsi ruangan-ruangan tersebut dari nama yang kita tempelkan di atas pintunya.
Lalu, adakah pasangan yang telah menikah (atau yang belum menikah pun) yang tidak menciptakan satu istilah atau frasa unik yang bertindak sebagai pertanda bahwa ia menginginkan hubungan seks? Entah agar anak-anaknya tidak tahu, atau agar istrinya segera mendorong pulang teman-temannya karena sang suami sudah tak tahan lagi. Ada yang bilang, “Ma, permen coklatnya di mana, aku pengin makan nih.” Ada yang melahirkan istilah yang tidak ada artinya di dalam bahasa kita, seperti “kenad,” “ucux,” dll. Ada yang memakai seperti nama orang, seperti “Gina,” “Gama,” “Mara,” dll. Apa istilah ciptaan Anda sendiri? Apakah maknanya membuat tenggorokan Anda tidak tercekat ketika di tengah-tengah orang lain?
Oleh karena itu, betapa leganya – betapa tekanan dan ketegangan kita bisa lepas merdeka – ketika kita bisa menceritakan canda-canda terbuka yang menunjukkan bahwa seks itu memang ada. Jika kita tambahkan pelepasan ketegangan itu ke dalam humor yang isinya memang lucu, maka tertawa yang keluar dari semua mulut pendengarnya bisa benar-benar meledak. Dengan demikian, bisa saja dinyatakan bahwa distorsi-distorsi yang diperkenalkan oleh kemunafikan sosial kita itulah yang membuat canda jorok menjadi faktor kunci bagi kesehatan mental laki-laki.
Tetapi tidakkah wanita juga menderita kemunafikan yang serupa seperti laki-laki? Jangan-jangan wanita jauh lebih tertekan karena mereka diharapkan “seperti Putri” dan “murni”? Tentu saja! Dan dari pengalamanku, wanita tertawa sama ngakaknya ketika mendengar humor seks. Perempuan bahkan punya toleransi yang lebih besar terhadap guyonan yang sesungguhnya tidak terlalu lucu tetapi sangat sangat jorok.
Kalau begitu, mengapa laki-laki tetap percaya bahwa kehadiran perempuan akan mengganggu keriangan mereka? Sebagian, dugaan saya, karena mereka adalah korban dari mitos kemurnian perempuan. Sebagian lagi karena salah satu komponen penting canda jorok adalah chauvinisme laki-laki yang tak terhapuskan. Perempuan hampir selalu adalah korban dalam canda jorok tersebut. Dan, sungguh, sepotong canda chauvinis lelaki bisa luar biasa sukses bahkan ketika tidak ada pertanda atau penunjuk jenis kelamin atau skatologi.
Sekali lagi, ini bukan misteri. Laki-laki sejak lahir dijajah perempuan (atau merasa jadi korban tirani wanita, yang akibatnya sama saja). Anak lelaki terus menerus dipaksa ibunya melakukan hal-hal yang tidak diinginkannya, atau untuk tidak melakukan apa-apa yang ingin ia lakukan. (Sang ayah sayangnya adalah makhluk yang lebih berjarak dan, kecuali ia seorang monster, lebih mudah ditangani).
Beranjak dewasa, pemuda yang tengah dimabuk asmara terus menerus ditekan oleh gadis dambaannya. Dan pengantin pria muda dipenjara untuk memenuhi janji-janji kampanyenya kepada pengantin wanita. Dan akhirnya, ketika perkawinan telah mapan, sang suami dirantai sepanjang masa oleh istrinya untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkannya dan untuk tidak melakukan segala yang diharapkannya. (Paling tidak, begitulah tampaknya.)
Wajar jika kemudian para pria berkumpul di satu tempat di mana mereka bisa melarikan diri dari dominasi betina sepanjang masa ini. Di tempat itulah mereka bisa membalas dendam, secara aman sejahtera, dengan saling lempar candaan di mana perempuan mendapatkan “apa yang layak mereka terima.”
Lalu, mungkin dengan sedikit takut-takut, Anda mengatakan bahwa semua canda jorok itu tidak berbahaya. Ketika semua guyonan telah ditembakkan, para lelaki pulang kembali ke rumah, setelah menjalani katarsis yang amat bermanfaat, dan kembali bisa mengatakan “Ya, sayang...” dengan penuh kelembutan dan sangat efisien dibandingkan sebelumnya. Di sini, sekali lagi, lawakan jorok seperti itu terbukti adalah pilar kesehatan jiwa laki-laki.
Apakah aku berhasil membuktikannya?
Tidak. Aku tak suka chauvinisme laki-laki. Tetapi marilah kita tidak menekan-nekan jutaan canda yang punya manfaat psikologis itu. Aku lebih suka mengundang perempuan ke dalam lingkaran istimewa tadi dan membiarkan mereka ikut menceritakan lelucon juga, yang mungkin akan membantu menyingkirkan sebagian tekanan psikologis mereka.
Susahnya, para perempuan itu membiarkan lelucon itu di tangan lelaki. Begitu banyak perempuan yang pernah berkata kepadaku, setelah tertawa cekikikan mendengar lelucon yang kukisahkan, “Oh, seandainya saja aku bisa mengulangnya. Tetapi kelihatannya aku tak pernah mampu mengingat lelucon. Kalau un aku ingat, aku tak bisa menceritakannya dengan lucu.”
Bukankah kita juga sering mendengar komentar seperti itu?
Nah, mengapa perempuan tidak bisa mengingat lelucon? Apakah sistem memori mereka buruk sekali?
Tidak masuk akal! Mereka bisa mengingat harga gaun, anting dan pakaian dalam yang pernah dan akan mereka beli. Mereka juga ingat persis di toko mana mereka membelinya. Mereka juga sangat lancar mengisahkannya kepada kawan-kawannya dalam kesempatan apa pun, entah sekadar makan siang di kantin kantor atau arisan di kompleks rumah. Mereka juga hafal di mana letak gula, bumbu dan perkakas di dapurnya, termasuk di mana posisi botol bumbu nasi goreng yang sudah bermenit-menit dicari setengah mati oleh suaminya sambil menyumpah-nyumpah.
Seepertinya, para perempuan itu hanya mementahkan tanggung jawab mereka. Dan selama itu, mereka memebiarkan kita para lelaki mengumpulkan kepala kita bersama-sama dan saling mengisahkan cerita jorok setelah melirik ke kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada seorang pun wanita yang mencuri dengar. (Dono Baswardono, Ph.D. Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengutip tanpa seijin penulis.)

Brrr... Dingin Banget!

Brrr... Dingin Banget!

Di desa, walau pak Lurah paling kaya, tapi rumahnya nggak pakai AC. Jadi, sampai berumur 15 tahun, aku nggak pernah merasakan udara dingin karena AC. Apalagi aku lahir dan dibesarkan di desa pinggir pantai di Kabupaten Jepara (tapi jauh dari tempat lahir maupun makamnya Ibu Kartini. Pertama kali ke kota Jepara waktu lebaran, beberapa bulan setelah aku nggak meneruskan sekolah kelas 5 SD.) Jadi, aku baru tahu kalau “Jakarta” itu dingin sekali, waktu Pak Lik (setelah beberapa bulan kemudian aku baru tahu kalau orang yang kusebut Pak Lik itu bukan saudaraku, dan pekerjaannya memang mencari dan membawa gadis-gadis desa ke Jakarta. Dia ternyata orang suruhannya Koh Gan. Ada juga kawan-kawanku yang memanggilnya Oom Gan. Aku nggak pernah tahu nama lengkapnya.)
Pak Lik tertawa ngakak waktu aku bilang Jakarta dingin sekali. Dia tak mau menjelaskan bahwa yang kurasa dingin itu adalah karena AC. Kalau ingat tertawanya waktu itu, aku jadi tersinggung sekarang. Apalagi, waktu sampai di tempatku bekerja, aku sudah pilek karena semalaman naik bus malam yang dinginnya minta ampun. Untungnya aku tidak muntah.
Waktu pertama kali harus masuk kamar untuk melayani tamu, aku memang sudah mulai terbiasa dengan hawa AC. Aku sudah sepuluh hari tinggal di Jakarta, meski tiap malam baru disuruh melihat bagaimana teman-teman baruku menemani, mengajak bicara, dan merayu tamu. Tapi, waktu pertama kali masuk kamar dan mesti buka seluruh pakaian, aku benar-benar nggak bisa mikir yang lain karena aku sangat kedinginan. Aku sampai gemetar.
Tamuku waktu itu bilang, “Takut ya kok kamu gemetar gitu?” Dia juga bertanya apa aku baru pertama kali melakukannya. Memang baru pertama kali, tapi dia nggak tahu kalau aku gemetar karena kedinginan. Nggak tahu sih, mungkin juga aku gemetar karena takut. Tapi dia jadi sangat senang (belakangan, setelah beberapa kali lagi dia datang dan memintaku menemaninya, aku tahu kalau waktu itu dia sangat senang karena bisa memerawaniku) sehingga ia akhirnya menelpon ke bawah untuk minta perpanjangan waktu. Wah, aku jadi makin gemetar. Kali ini sungguh-sungguh karena kedinginan. Bagaimana tidak, aku tak boleh memakai pakaianku waktu menunggu dia siap kembali.
Malam pertama itu, aku masih kedatangan tiga orang tamu lagi. Dan untuk yang kedua dan ketiga itu, aku makin gemetar. Bahkan yang ketiga, gigiku sampai berkeletuk. Tamuku sampai tertawa dan segera menyerbuku. Mereka bertiga punya pikiran yang sama. Menganggapku ketakutan hingga gemetar. Anehnya, mereka tampak sangat bangga, seperti anak-anak dan pemuda di kampungku yang berhasil mengambil hadiah dalam lomba panjat pinang dalam perayaan 17-an.
Esok harinya, aku masih merasa kedinginan, walau sudah mulai terbiasa. Begitu terus sampai beberapa hari. Tapi aku juga mulai terbiasa dengan tampang tamuku yang merasa menang. Beberapa kali aku pura-pura gemetar, kalau kulihat tamuku tidak memperlihatkan wajah kemenangannya. Aku takut, kalau dia tak merasa bangga dan senang, dia tidak memberiku uang persen (kemudian kawanku mengajariku untuk menyebut kata “tip.” Susah banget.) yang sangat besar, seperti tamu pertamaku beberapa hari lalu.
Aku sebenarnya benci kalau tamuku mengajak mandi bareng, terutama sebelum kami naik ranjang. Bukan apa-apa, aku jadi tambah kedinginan. Kalau mandi sendirian, aku bisa agak cepat-cepat. Kalau bareng tamu, mereka kadang suka berlama-lama. Kalau terus menerus kena air sih, nggak terasa dinginnya. Tapi kalau habis tersiram air terus mereka pegang-pegang badanku, aku jadi sangat kedinginan. Apalagi, kamar mandinya kan tidak tertutup sama sekali, cuma diberi korden, sehingga udara AC juga masuk ke dalam kamar mandi, tulangku jadi seperti tertusuk-tusuk.
Kalau mandi setelah melayani, biasanya lebih cepat. Banyak tamu yang ingin segera membersihkan dirinya. Ada juga sih yang nggak peduli, langsung ke luar kamar. Tadinya aku mandi sembarangan, tapi mbak Yeni mengajariku mandi yang katanya lebih sehat, “supaya kita nggak gampang kena penyakit,” begitu katanya.
Setahun kerja di tempat Koh Gan, aku kemudian dipindahkannya ke tempatnya yang lain. Tempat yang paling kubenci, sampai sekarang, karena luar biasa dinginnya. Tiga bulan kemudian, aku nggak tahan lagi, sampai memohon-mohon kepada Koh Gan agar balik ke tempat asal atau lokasi yang lain.
Bayangkan saja, di tempat baru itu, cara melayani tamu sangat berbeda. Kamarnya juga berbeda. Kalau yang lama, ya seperti kamar biasa hanya ditambah dengan kamar mandi. Di tempat baru ini, lebih pas disebut sebagai kamar mandi yang ditambahi ranjang. Kamar mandinya pun ada shower (ini juga kata baru yang diajarkan oleh Pak Kurus, petugas pengantar handuk dan perlengkapan lain) dan bath-tub (di telingaku, Pak Kurus menyebutnya ‘bakuip.’) Selain itu, ranjangnya persis seperti ranjang kalau kita diperiksa dokter, tinggi dan dilapisi plastik tebal. (eh, tapi nggak setinggi ranjang dokter, kakinya lebih pendek sedikit, nggak perlu pakai tangga kecil untuk naik ranjang.)
Begitu melihat kamarnya, sebelum mulai kerja, aku sampai bertanya ke Oom Alex – manajer panti pijat ini – bagaimana caranya. Dan sewaktu mendengar penjelasannya, aku sudah menggigil, membayangkan dingin yang bakal menyergapku.
Bayangkan saja, aku harus menyiram diri dengan air sabun. Begitu pula ke tamuku. Tubuhku tentu saja jadi licin sehingga aku dengan gampang meluncur, bahkan di atas permukaan yang tidak rata (tahu kan maksudku?) “Hanya saja,” kata Oom Alex, “tamu-tamumu dilarang menyentuh tubuhmu.” Mereka hanya boleh diam saja layaknya orang yang dipijat biasa. Walau aku memijat mereka juga tanpa kedua tanganku, tapi ya meluncur itu tadi. Kata Oom Alex, itu karena ijin tempat ini memang panti pijat, bukan tempat hiburan lain. Ya ampun, aku nggak peduli mereka boleh menyentuh atau tidak, yang jelas aku pasti kedinginan. Masa, orang yang nggak tahan dingin disuruh main air dan air sabun selama satu jam. Yang benar saja ah!
Apa yang kubayangkan memang jadi kenyataan. Aku kedinginan bukan kepalang. Aku menggigil terus. Aku jadi tak bisa melayani tamuku dengan baik. Kalau tahun lalu aku bisa membuat tamuku yakin kalau aku perawan (selama berhari-hari, dan sehari berkali-kali) karena aku menggigil, maka sekarang mereka bermuka masam. Mereka merasa terganggu, bahkan banyak di antaranya yang bilang supaya aku pindah kerja saja. Menyebalkan! Egois! Padahal, meski aku kedinginan, mereka tetap saja bisa keluar. Dan walau sudah tahu kalau aku kedinginan, mereka tetap saja minta supaya aku memberikan seks oral (ini juga istilah yang diajarkan Mbak Yeni.) Ada juga sih yang minta di dalam ‘bakuip’ tapi aku selalu menolak sampai aku dipindahkan lagi ke tempat semula oleh Koh Gan. Hlo?
Yah, masa sampeyan nggak tahu. Nggak perlu heran lah, walau tamu dilarang pegang-pegang tubuhku, tapi aku kan nggak dilarang melayani mereka lebih dari sekadar pijat dengan air sabun itu.
Tahu nggak, kalau sedang memberi itu, aku juga kedinginan. Sampai-sampai, aku selalu minta ke tamuku apa aku boleh mematikan AC-nya. Kebanyakan sih membolehkan. Nggak tahu apakah mereka baik hati, atau karena mereka sendiri juga kedinginan (yang pasti, mereka kemudian kepanasan. Ha ha ha...)
Tanpa sepengetahuan Oom Alex, aku juga selalu minta kepada tamuku untuk mandiri, mandi sendiri. Meski sebenarnya, sebagai bagian pelayanan, aku disuruh memandikan mereka. Pokoknya, aku berusaha sebisa mungkin untuk cepat-cepat ke luar kamar agar bisa segera memanaskan diri di luar. Tapi aku juga tak bisa selalu menolak pelayanan ekstra, selain pijat, karena aku juga butuh tip mereka. Meski, tetap saja pendapatanku di sini jauh menurun dibanding tempat lama, karena aku lebih suka nongkrong di kios rokok di depan panti, daripada masuk menunggu tamu memilihku.
Hal paling membahagiakan bagiku adalah ketika aku sudah melunasi hutang-hutangku kepada Koh Gan, tujuh tahun setelah aku pertama kali kenal AC, lalu bisa memilih sendiri tempat aku bekerja. Sebelum aku memutuskan untuk bekerja di suatu tempat, aku selalu memeriksa kamarnya, terutama kamar mandinya, apakah ada air panasnya atau tidak. Aku tak mau kedinginan seumur hidupku. Aku orang pantai.
Sekarang, setelah umurku menginjak 30 tahun, aku harus sudah memikirkan pensiun. Aku sudah punya rumah di Jepara, selain memperbaiki rumah Simbok di kampung. Aku punya satu anak, perempuan, sekolah di Jepara, ditunggui oleh adik-adikku. Setiap kali pulang ke Jepara, waktu bulan puasa, meski kangen luar biasa dengan anakku semata wayang, aku tidak mau tidur di kamarnya. Kamarnya ber-AC! DB
(Tanti, 29 tahun. Tinggi sekitar 160 cm, berat badan sekitar 55 kg. Kulit, kata orang Jawa sih putih, tapi kata orang Cina ya aku ini hitam. Aku belum pernah operasi apa-apa, meski aku selalu beli beha ukuran 34. Kamar kosku tidak ada kipas angin apalagi AC-nya. Barang yang selalu nggak boleh terlupa kubeli adalah minyak kayu putih, kadang minyak telon supaya agak wangi.)

Tuesday, May 16, 2006

Seorang Pendeta Mengenang Ibu dan Ayahnya

Terus terang, aku minder untuk menulis soal agama; bahkan jika hanya menyangkut apa itu kelelakian dan keperempuanan menurut agama. Maka, aku akan meminjam mulut kawan-kawan, dari pendeta sampai ulama. Berikut ini pengalaman nyata seorang kawan semasa kuliah, sama-sama mendalami ilmu soal kepemimpinan politik. Teman-teman memanggilnya Tinky – aku rasa dari Tinkerman – karena ia punya hobi membongkar dan memperbaiki barang, padahal nama aslinya John Pipper.
Ketika aku masih seorang anak laki-laki yang tengah tumbuh di Greenville, South Carolina, ayahku pergi meninggalkan rumah sekitar 8 bulan setiap tahun. Hanya semusim saja ia tinggal bersama kami. Dan ketika ia menyebarkan agama ke seluruh penjuru negeri, kami – ibu, kakak perempuan dan aku – berdoa di rumah. Apa yang kupelajari dalam hari-hari itu adalah bahwa ibuku sangat-sangat mampu.
Ia menangani keuangan keluarga, membayar berbagai tagihan dan menghadapi bank dan kreditor. Ia juga pernah menjalankan bisnis pencucian baju. Ia pun aktif di Dewan Kota, yang bertindak sebagai pengawas Departemen Perhubungan dari Gereja Baptis kami, dan mengelola beberapa perusahaan perumahan.
Ia mengajarkan kepadaku bagaimana memotong rumput, menarik rumput liar sampai ke akar-akarnya dan membelah kabel listrik, mencat jendela rumah dan mengkilapkan meja makan dari kayu mahogani, menyetir mobil, serta bagaimana menjaga agar kentang goreng tidak gosong di dalam minyak yang mendidih. Ia membantuku mempelajari peta geografi dan menunjukkan kepadaku bagaimana cara mengkliping bahan-bahan belajar, memberi petunjuk soal projek ilmiah berupa listrik statis dan meyakini bahwa Aljabar adalah hal yang gampang. Ia juga menghadapi para tukang bangunan ketika rumah kami ditambahi ruang bawah tanah, dan lebih dari sekali mencengkeramkan tangannya ke sekop. Tidak pernah sekalipun dalam hidupku, ada hal yang tidak bisa dilakukannya.
Aku sering mendengar orang mengatakan kalau wanita tidak berkeringat, wanita berkilau. Sama sekali tidak benar! Ibuku berkeringat. Keringat itu bahkan menetes dari ujung hidungnya yang mancung. Kadang-kadang ia akan meniup tetes keringat itu jika kedua tangannya sedang mendorong gerobak yang penuh berisi lumut. Atau ia menghapusnya dengan lengan bajunya saat berhenti sejak dari mengayunkan kapak. Ibu sangat kuat. Aku bahkan masih ingat bagaimana bentuk kedua lengannya sekarang ini, meski sudah lewat 30 tahun. Keduanya besar, dan di musim panas tampak kecoklatan.
Aku selalu memikirkan ibu dan ayah dalam kategori yang sama. Keduanya sama-sama kuat. Keduanya cerdas. Keduanya ramah. Keduanya akan menciumku dan sama-sama akan memukul pantatku kalau aku nakal. Keduanya pintar berkata-kata. Keduanya berdoa dengan penuh kekhusyukan dan sama-sama mencintai Injil.
Meskipun begitu, ayahku adalah laki-laki dan ibuku perempuan. Mereka tahu hal itu, begitu pula aku. Itu bukan hanya kenyataan biologis. Itu adalah terutama persoalan keorangan dan dinamika hubungan.
Ketika ayahku pulang, ia jelas kepala rumah tangga. Ia memimpin doa di meja. Ia memanggil keluarga bersama-sama untuk melakukan renungan. Ia mengajak kami ke Sekolah Minggu dan pergi ke gereja. Ia yang menyupiri mobil. Ia memandu keluarga ke tempat di mana kami akan duduk. Ia yang membuat keputusan untuk pergi ke restoran Howard Johnson untuk makan siang. Ia yang memimpin kami menuju meja. Ia memanggil pelayan. Ia yang membayar tagihan. Kami tahu, ia adalah orang yang akan menghukum kami kalau kami melanggar aturan keluarga atau tidak menghormati ibu. Itu adalah saat-saat paling membahagiakan bagi ibu. Ia selalu gembira jika ayah pulang. Ibu mencintai kepemimpinan ayah. Baru setelah besar aku mempelajari dari Injil bahwa hal itu disebut “penyerahan.”
Tapi karena ayahku lebih banyak tidak ada di rumah, ibu jugalah yang biasa melakukan kepemimpinan itu. Jadi, bagiku, kepemimpinan dan penghambaan sama sekali tidak berkaitan dengan keunggulan dan kelemahan. Juga tidak ada pertaliannya dengan otot dan kecakapan. Itu bukan persoalan kemampuan dan kesanggupan. Itu berhubungan dengan sesuatu yang tak pernah bisa kujelaskan sebagai seorang anak kecil. Meski sejak lama aku memahaminya sebagai bagian dari kebaikan Tuhan dalam menciptakan laki-laki dan perempuan.
Itu berkaitan dengan sesuatu yang sangat mendalam. Aku tahu bahwa irama kehidupan dalam rumahku tidak selalu bagus. Tapi selalu ada dimensi realitas dan kebaikan yang mustinya ada dalam tiap rumah. Sungguh, mustinya ada dalam banyak cara dalam semua hubungan matang antara pria dan wanita. Aku mengatakan “semustinya ada” karena aku melihat bahwa hal itu berakar pada tuhan.
Selama bertahun-tahun aku melihat dari Kitab dan dari kehidupan bahwa kelelakian dan keperempuanan adalah karya indah dari Tuhan yang baik dan mencintai. Ia merancang perbedaan kita dengan sangat dalam. Perbedaan itu bukan sekadar prasyarat untuk penyatuan seksual. Perbedaan itu adalah akar kemanusiaan kita. Dono Baswardono, Ph.D

Vaginomi

Kemarin, tengah saya asyik makan buah papaya, seorang kawan dari Pusat Krisis Wanita dan anak-anak menelepon. “Darurat,” teriaknya. Ia mengajak saya segera pergi menjemput seorang gadis yang disekap oleh pacarnya di sebuah hotel.
Awalnya, seorang kawan yang lain, relawan lembaga yang banyak menangani kasus kekerasan terhadap perempuan, menerima sms yang berbunyi, “Aku bertahan mencintai suami orang. Semoga tidak berakhir dalam penyesalan dan air mata.” Sesampai di hotel, dalam dialog dengan kami, gadis itu merasa ia baik-baik saja. Ia merasa penyekapan itu adalah bagian dari pengorbanan, bagian dari pembuktian cintanya. Ia juga merasa bahwa lelaki berumur 50-an yang menguncinya dari luar itu, seratus persen berhak mengambil tindakan itu, karena menurutnya, pria itu berusaha melindungi dirinya dari pandangan atau tindakan lelaki hidung belang yang banyak berkeliaran di hotel “jam-jaman” tersebut. Ironis.
Saya berfikir sejenak, kemudian meminta kawan-kawan untuk tidak lagi melakukan pendekatan psikologis. Saya percaya, perempuan adalah makhluk yang sangat rasional, bukan emosional, seperti selama ini dicekokkan ke dalam pikiran kita. Saya mengajak gadis yang baru saja tamat SMU itu untuk berhitung.
Apa yang ia dapat dari pacar gelapnya itu? Biaya kos di sebuah kamar dengan satu ranjang dan satu lemari dan kipas angin seharga 300 ribu rupiah sebulan. Uang saku sekitar sejuta sebulan. Dan dua potong baju baru sebulan, yang masing-masing tak lebih dari 150 ribu perak. Total kurang dari satu setengah juta rupiah.
Lalu apa yang harus ia berikan kepada pria yang selalu ia sebut sebagai “malaikat pelindung” itu? Pertama, keperawanan – tak peduli Anda menganggap hal ini mulia atau tidak – yang di beberapa rumah pelacuran di daerah kota, dibandrol antara satu sampai empat juta rupiah. Karena gadis korban ini berwajah di atas rata-rata dan bertubuh molig, taruhlah harganya tiga juta perak. Setelah itu, minimal satu minggu sekali, orang yang seharusnya menjadi ayah bagi gadis itu, berkunjung ke tempat kosnya dan – minimal – dua kali bersenggama. Dengan harga perempuan pekerja seks profesional kelas menengah – berdasar data dari bukunya Moammar Emka, “Jakarta Undercover” – yang berkisar 400 ribu rupiah “short-time” (per 60 menit), maka dalam sehari ia memberi jasa senilai 800 ribu rupiah. Tetapi, berdasar hitungan “long-time” atau “full-day service” – tak peduli dalam waktu 24 jam itu hanya sekali melakukan coitus – lelaki itu mustinya membayar sejumlah 2,5 sampai 3 juta rupiah. Dalam sebulan, seharusnya ia membayar 10 sampai 12 juta rupiah. Kenyataannya, ia hanya ‘membiayai’ gadis itu sebesar kurang dari 1,5 juta rupiah.
Lima menit setelah soal perekonomian vagina (vaginomi) itu saya beberkan, gadis itu membolehkan kami menghubungi pengurus hotel yang kemudian mengontak pria penyewa kamar. Pintu dibuka, dan pria ini kami adukan ke polisi. Dono Baswardono, Ph.D

Bahkan Pacarku Hamidah Lebih Jantan daripada Aku
(Apa Aku Harus Berdarah untuk Membuktikan Kejantananku?)

Aku tak sabar untuk merendam tubuh telanjangku yang tanpa bulu ke dalam kolam berisikan cairan testosteron. Aku merasa kekurangan testosteron sejak masih di Taman Kanak-kanak, ketika dikelilingi oleh teman-teman wanita, aku lebih suka memelototi koleksi stikerku, mendengarkan koleksi piringan hitam Koes Plus milik kakak perempuanku – daripada Rollies milik kakak laki-laki ku, memasak kue dengan oven mainan pemberian ibu, dan mengatur koleksi hewan kayuku. Bahkan Si Siti Kepang punya masa kanak-kanak yang lebih maskulin daripada diriku.
Tapi aku perlu tahu seberapa jantan diriku, persisnya. Maka aku pergi ke dokter untuk memeriksakan berapa jumlah testosteronku. Sayang sekali, dokterku tidak bisa melakukan pemeriksaan itu lewat ludah; ia perlu sampel darah. Itu membuatku berfikir berulang-ulang untuk membatalkan bertemu dokterku. Tapi akhirnya aku berani menemui dokter. Dalam 48 jam aku akan tahu seberapa laki-laki diriku ini.
Sejak remaja, aku mengkompensasi kekurangjantananku dengan menonton film-film porno, menulis kolom soal seks di majalah, dan kemudian menguji nyali dengan jual-beli saham.
Tapi jauh di dasar hatiku aku tahu kalau T (testosteron) ku malu-malu. Aku tidak bisa meneriaki pengemudi lain, menaikkan suaraku, menggamit seorang perempuan di bar atau, apalagi, menumbuhkan cambang dan kumis. Semua wiski, tak peduli seberapa mahalnya, terasa seperti membakar lidah. Tapi jauh di dalam, aku juga ingin tidur dengan segala macam wanita, menendang atau memukul orang, main sepakbola atau menerbitkan album musik rock.
Seperti kulihat sendiri, aku nyaris tak punya pilihan kecuali bergantung pada penemuan baru – tidak terlalu baru di Inggris – berupa gel testosteron. Aku bisa menyimpannya di saku jaketku kalau aku menghadapi situasi darurat, bersama dengan gel untuk membersihkan tangan sebelum makan pecel lele di kaki lima. kalau menghitung berapa jumlah testosteronku. Aku malah punya gagasan untuk memasarkan gel testosteron ini dalam kemasan praktis semacam pertolongan pertama bagi mereka yang membutuhkan.
Sambil menunggu hasil laboratorium keluar dua hari lagi, karena merasa tidak nyaman, tepatnya tidak aman, aku mengunjungi lagi dokterku, yang perawakannya lebih mirip dengan Ade Rai daripada gurubesarku yang memberikan kuliah psikiatri dulu. “Kamu terlalu ringan,” ia memelesetkan kata kurus dan sekaligus tidak jantan. Ia lalu menyarankan agar aku memakai AndroGel. “Otot-otot bisepmu akan membesar, bulu tubuh akan mulai tumbuh, dan... ekstra agresif.” Entah, kenapa ia berhenti sejenak sebelum menandaskan kata agresif itu. Mungkin di kepalanya, aku ini sangat submisif. (Kata kawanku yang profesor ilmu politik, itu akibat kita terlalu lama dijajah sehingga menjadi bangsa kuli. Yah, menurutku sih, yang berfikiran kalau kita ini bangsa kuli ya karena dirinya tak bisa memerdekakan pikirannya sendiri.)
Ketika kutanya apa aku bisa mendapatkan testosteron itu tanpa resep, dia menyarankan agar aku sering makan sop kambing Bang Kumis, terutama pesan ‘rudal’nya alias penis dan scrotum kambing. Ia meyakini kalau banyak testosteron di dalamnya. “Itu makanan yang paling logis untuk disantap,” tegasnya. Karena aku lebih suka makanan Italia, maka aku memikirkannya untuk disajikan dalam pasta dengan saus tomat ringan yang bisa kupasarkan dengan nama “testosteroni.”
Sepulang dari dokter, aku masih tetap cemas, maka kutelponlah mantan pacarku, dengan harapan ia bisa membuatku merasa lebih enakan. “Kupikir, kadar testosteronmu memang menyeramkan,” seperti dokter, ia juga jeda sebentar, “terlalu sedikit.” Ia lalu menjelaskan, “kamu takut pada anjing, kamu masih menyimpan oven mainanmu, dan kamu tak pernah bertengkar apalagi berkelahi.” Sekarang aku tahu alasan-alasan tambahan mengapa kami putus hubungan.
Setelah dua hari yang penuh neurosis, aku datang ke dokter untuk membaca hasil laboratorium. Di kertas tertulis normal dengan rentang nilai dari 260 sampai 1000. Aku memaksa kepada dokter, berapa angka persisnya, ia menjawab 302. Ketika aku mulai ketakutan karena berada di dasar 10% terbawah, ia sekali lagi menandaskan kalau aku sama sekali normal. Yah, normal dalam hal aku tak punya payudara.
Salah satu sahabat wanitaku mencoba menenangkanku. Ia mengatakan kalau wanita mungkin senang bahkan merasa ekstasi jika sesekali berhubungan dengan pria bertestoteron tinggi, tapi mereka lebih suka hidup mapan dalam jangka panjang dengan pria yang secara hormonal seimbang. Tapi pernyataannya tetap tidak membuatku merasa lebih baik.
Kini yang kupikirkan malah, berkurang satu alasanku kalau sampai aku menyeleweng. Kecuali kalau aku benar-benar memakai gel testosteron. Dono Baswardono, Ph.D (Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengutip tanpa seijin penulis.)

The Politics of Psychosexual

Why can't a man be more like a woman? Ever since the 1960's, well meaning women and men have been engaged in a psychological and political dance as part of their attempt to choreograph new gender roles and gender relationships. Whether the dance has been the more delicate minuet or the more aggressive tango has varied with the personalities of the dancers. Yet, throughout much of this process, men have been on the defensive.

Until the 1960's, men, whether they were crude or refined, rough or gentle, authoritarian or collaborative, benefited from the privileges of gender that were part of the fundamental cultural givens of our society. When women rose up to protest the damage and disadvantage brought about by this profound privilege imbalance, they often did so fired by the anger we naturally use to protect our wounds. Sometimes these were the wounds inflicted by oppression and abuse, sometimes the wounds inflicted by overtly demeaning attitudes, and sometimes the less provable wounds inflicted by slight and neglect. Women, and many men with them, moved forward to fight for new understandings, new assumptions, new words and labels, and new behaviors as part of the effort to create a more evenly balanced, gender authentic, and respectful, society.

The results of this effort have been varied, good and bad, for both men and women. In this article, I am focusing on the problematic effect of this gender revolution on men. While it is difficult to talk about men as a monolithic block- men vary by age, class, education, ethnicity, regional geography, and personality- there are certain thematic truths that affect the overwhelming majority of men to some degree. Additionally and most importantly, most men want a meaningful love relationship with a woman. It is about this group that I write.

The changes wrought by the gender revolution have most visibly been in gender role definitions. Women began to do 'men things' (in careers, in sports, in hobbies -how many women did carpentry as a hobby before the '60's revolution?), and men began to do 'women things' (change diapers, cook, clean, grocery shop) . My impression is that this broadening of gender role definition has largely worked well, the sole disadvantage being that men and women have not yet figured out how to double the length of their day to accommodate the doubling of their responsibilities and activities.

A less visible change has been a shift in the power to define the other. Women had complained that men defined them, requiring women to exhibit only narrowly defined 'feminine' qualities and behaviors if they were to be loved and accepted by men. For many women the constriction of self required was unconscious. The consciousness raising begun in the 1960's, and now an integral part of our social dialogue, brought an awareness of this constriction to the fore, sometimes combatively so. It has contributed to the ongoing effort by women to discover their gender authenticity.

Men were often the target of this process. Men were held responsible- sometimes lovingly and understandingly, sometimes angrily - for having defined women for their own needs. Men responded sometimes defensively, sometimes acquiescing, sometimes with an "ah ha" of awareness. Men also began to get defined in unflattering ways. Traditional male traits, activities, predispositions, patterns of comfort, manners of relating and experiencing, began to be considered, ...well, barbaric, or pathetically 'unrelated', or perhaps the condescendingly 'cute' expressions of boys who had never grown up. Some women and some men in the world at large, together with many women and many men in the mental health professions, began to conceptualize 'being human' in ways that could be thought to look like 'being feminine'. The feminist complaint that men had defined god in their own image, looked to be inverted with women defining 'human' in their own image. Men, in short, were in danger of having their gender uniqueness defined out of acceptability; of having the same thing done to them by women, that they had done to women.

Probably the most famous line to come out of the movie My Fair Lady is the plaint by Dr. Higgins, "why can't a woman be more like a man?". Herein lies the tragedy of all social relations. Too few of us are willing to experience the other beyond the foreshortened limits of our own ideas, feelings, aesthetics, and mannerisms. This is true nationally, ethnically, religiously, racially, and across class, gender, and even affinity groupings. We respond to the other as if the other, in his or her difference, is either sadly lacking- i.e. inferior- or an affront to decency and proper values- i.e. a threat. When we deem others inferior or a threat, we exert ourselves to change, or punish, or restrict, or banish them. Sadly, much of social relations has consisted of one group treating another group in this way. In our discussion of gender, it is equally tragic whether men do this to women or women do this to men.

What might be called the 'feminization of romantic relationships' has put many men on the defensive and made it harder for couples to grow toward that state of mutuality and empathy - the compassionate understanding of the other- so essential for a loving and collaborative relationship of equals. Many traditional 'male' traits -e.g. leaning toward a preference for action over talk, behavior over emotional expressiveness, keeping feelings to oneself to work them out over talking them through, doing things separately over doing things together- have been viewed as interpersonally 'defective' rather than 'validly different'. The result is too much unnecessary disappointment, anger, and hopelessness within couples. Whereas the label 'defective' leads us to want to change it or spurn it, the label 'validly different' invites us to want to learn about it, and work to accommodate and coordinate our different ways and different needs. Indeed, many of these traditional male traits together with traditional female traits, when mutually valued and flexibly coordinated, can form a balanced stability in the life of a couple.

What is needed is a willingness to be interested in, and accepting of, the difference of the other, and a commitment to treating the wounds of the other with sensitivity and validation.

It is impossible to grow up without being emotionally wounded. Some of us are lucky, - we were born into a relatively functional and loving family, into a class, ethnic group, race, or country where our exposure to discrimination or interpersonal cruelty was limited -, and our wounds are few and shallow. Some of us are less lucky, and our wounds are many and deep.

We bring our wounds to our romantic relationships for healing. We want our partner to be sensitive and loving, to act in healing ways toward our wounds even when we are not overt about our need. The most healing gesture we can make to the wounds of a partner is when we offer love and acceptance of their essential self. Men have been socialized to be unaware of their wounds and their needs in order to be strong. Men are exceptionally sensitive to having their wounds revealed because they fear they will be viewed as weak and treated with disdain. They fear both women and other men in this regard.

The emergence of women from their state of wounded constriction often brought with it an anger over the wound as well as a "my hurt deserves primacy" stance in their relations with men. Until the 1960's many women had been quite aware of male woundedness, and in successful relationships had sensitively cared for this wounded self without drawing direct attention to it, and with a minimum of mockery. In the more open and free-wheeling atmosphere of the post-1960's, men were often confronted with: "I am angry over what has been done to me and my hurt deserves reparations from you;" "if you have a wound too it's not my fault, and anyway my wound deserves first attention;" and "if we're going to address your wound you have to be open about it and expose it to my scrutiny no matter how shameful that feels."

Men reeled, and many withdrew in confusion, hurt, self-deprecation, or anger. Men were unprepared for the anger they faced in partners they thought loved them. They were confused by the demands being made upon them to change and become something that sometimes felt alien. They were hurt by the critical or demeaning characterizations of men so casually offered up as simple truths in otherwise benign social discourse. They were reluctant to expose their hurts for fear that in so doing they would feel, or appear to others, less of a man. They grew angry in order to manage their hurt and confusion, sometimes counter-demeaning women. Welcome to our enlightened version of the gender wars.



What some men and women lost at this point was the awareness that difficulties, complaints, and disappointments in a relationship can be addressed constructively, that we are not stuck choosing between merely swallowing our concerns or disdainful combat.
Men should never forget the great injustice done to women over long periods of time, nor should the difficulties faced by men in the post-1960's be treated by women as fair balance. We are all capable of being worried about losing what we need or cherish, or having our emotional bruises chafed. If, because of our worry, we pre-emptively attack or counter-attack others, and those 'others' include the person by whom we want to be cared for and cherished, we damage that which is most precious. In our collective effort to remediate old damage we can inadvertently cause new damage. To some extent this has happened in gender relations.

What is needed now is a fresh and compassionate appreciation of what is unique, idiosyncratic, and, yes, needful about our 'other'. It is ironic that we are attracted to partners who are different from us in certain meaningful ways, in fact we are drawn by those differences, and then, in the post-romantic phase of the relationship find ourselves preoccupied with critical feelings toward what has become the unattractive side of those once attractive differences. We need, instead, in this post-romantic phase, to tutor ourselves to act out of the assumption that what is different about our 'other' is essentially good, and a potential complement to our uniqueness. Our task is to manage our anxieties and fears of difference so we can stay open to, and even embrace, those differences. Then we can create relationships full of exhilaration, growth, and safety for both women and men. Dono Baswardono Ph.D

Teori Prostitusi: Antara Feminis Radikal dan Seks Radikal

Teori prostitusi? “What a suck!” teriak Cynthia, seorang ‘bimbo’ di kota Manchester, dekat tempat kuliahku dulu. Aku hanya tersenyum-senyum. Aku tahu mengapa ia tidak acuh pada ‘kerepotan’ para feminis yang ribut di mimbar-mimbar kampus, di dalam jurnal-jurnal ilmiah, dan di parlemen. Baginya, persoalan selalu bersifat individual dan unik; bukan sesuatu yang bersifat massal meskipun ada jutaan perempuan di dunia yang memperoleh penghidupan dengan menjual tubuhnya.
Hanya menjual tubuh? Tidak! Juga perasaan dan pikiran mereka.
Karena itu, bagiku, teori prostitusi yang merupakan turunan dari teori-teori feminisme hanyalah sebuah langkah awal – yang sangat kecil. Langkah yang bisa saja membawa pemahaman yang sangat keliru, sangat melenceng.
Begitulah, maka suatu hari, persis seminggu sebelum aku berangkat mempertahankan disertasi soal kepemimpinan, dua orang kawan peneliti mewawancaraiku. Mereka hendak memetakan dan memberi saran-saran pada Kementrian Hukum dan HAM dalam menyusun Undang-Undang yang mereka niatkan “untuk melindungi para pekerja seni/artis dari pornografi.” Di kepala mereka, sudah tertanam ‘mitos’ bahwa seluruh ‘artis’ yang menjadi gambar sampul tabloid-tabloid seks dan majalah-majalah porno adalah korban! Korban pelecehan seks fotografer, pengarah gaya, dan kawan-kawannya. Korban penindasan yang dilakukan oleh industri media.
Untunglah, mereka membuka diri dengan mencoba mendengarkan dari sudut pandang seorang yang pernah belasan tahun bekerja di industri media hiburan. Betapa terkejutnya mereka ketika kukatakan bahwa “tampil telanjang di sampul depan” adalah cita-cita dari banyak gadis. Bukan hanya sebuah pilihan. Tetapi sebuah pilihan yang diniatkan, sengaja bekerja keras dengan cita-cita itu terus menghiasi kepala mereka. Dan, mereka tahu risiko-risiko yang akan dihadapi. Jadi, aku bilang kepada mereka, niat baik Anda untuk “menolong” mereka akan menghadapi jalan terjal karena mereka merasa sama sekali tidak membutuhkannya. Mereka merasa bukan korban, tapi wanita-wanita sukses! Mereka malah akan memandang Anda, para peneliti, sebagai perempuan-perempuan jelek yang pekerjaannya hanya mengurusi orang lain tapi tak becus mengurus diri sendiri. Aduh, maaf!
Betul! Mereka bangga dengan seluruh pencapaiannya: kecantikan; keelokan tubuhnya; penghasilannya yang melebihi para manajer; perannya sebagai pilar ekonomi keluarga; fakta bahwa mereka telah menjadi kepala keluarga meminggirkan ayah, saudara-saudara lelaki dan bahkan suaminya. Mereka kini berkuasa, dalam kehidupan nyata sehari-hari, bukan hanya dalam paper. Mereka menjadi percaya diri karenanya. Bukankah itu sebuah emansipasi perasaan dan pikiran yang lebih luar biasa daripada “keadilan gender” dan segala “jargon-jargon feminisme.” Tentu saja, wanita-wanita yang percaya diri dan bermartabat ini akan takjub luar biasa, memandang dengan penuh keheranan seakan sedang bertemu dengan makhluk luar angkasa, jika Anda, para peneliti, menganggapnya sebagai korban.
“Perspektif korban,” ujar seorang penyiar di sebuah radio wanita (begitulah mereka menyebut diri). Atau perspektif yang dipaksakan agar mereka merasa menjadi korban? Akhirnya, mereka memang menjadi korban. Korban pemaksaan pikiran, he he he.
“Korban dari teori-teori mereka sendiri. Korban dari asumsi-asumsi yang mereka patok sendiri,” ujar seorang escort, sebut saja Tari, mahasiswi magister dari sebuah perguruan tinggi negeri ternama yang tengah menyusun tesis soal kebijakan perdagangan internasional, yang biasa menemani banyak anggota parlemen. “Aku juga kenal si ini dan si itu – ia menyebut beberapa nama anggota parlemen dan pejabat di Kementrian Pemberdayaan Perempuan – jangankan lepas dari penjajahan suami mereka, lepas dari penjajahan kebaya yang mengekploitasi tubuh wanita saja mereka tak sanggup!”
Busyet!
“Mereka kan tidak pernah jadi pelacur, Mas!” jawab seorang mahasiswi arsitektur sebuah universitas swasta ternama yang sering menjadi SPG pameran mobil mewah – dan kemudian biasa pula memamerkan dirinya di hadapan laki-laki super kaya yang diketahuinya telah membeli salah satu mobil itu (“Calon pembeli harus dicoret dari kamusku,” ia menerangkan proses seleksi yang dilakukannya) ketika kutanya soal bagaimana pandangannya terhadap gerakan dan teori-teori feminisme. Sementara Yeni, yang hampir tiap hari mangkal di dalam sebuah tempat biliar di dalam sebuah hotel bintang tiga di sekitar jalan Gajah Mada, Jakarta, mengomentari “emansipasi wanita” dengan “Terus aku kerja apa kalau wanita sudah maju?”

***

Bukan berarti aku anti segala macam teori feminisme. Aku hanya mau memaparkan sederetan fakta. Bukan perilaku atau fenomena yang terlihat oleh mata, sehingga gampang diobservasi. Aku juga tidak mau berpretensi bisa menggali perasaan dan pikiran para pelacur. Aku hanya berusaha menjadi pendengar setia mereka. Aku ingin mereka menumpahkan segala perasaan dan pikirannya sendiri. Siapa tahu, dengan ekspresi pikiran dan perasaan itu bisa membuat diri mereka lebih lega, lebih bisa memahami diri sendiri. Dan syukur pula, kalau membuat orang-orang lain, termasuk para peneliti dan feminis, juga moralis, ikut memahami kehidupan yang mereka jalani.
Terserah pada mereka, kalau setelah mendengarkan ungkapan perasaan dan pengalaman batin para pelacur ini, kemudian tetap mengetokkan palu penghakiman, melempar sumpah serapah dan tudingan-tudingan banjir prasangka, makin menebalkan mitos-mitos yang menjejali kepala mereka atau menumbuhkan empati di dalam diri, atau reaksi-reaksi lainnya. Karena para pelacur itu juga tak meminta belas kasihan, dan sebaliknya, penghakiman kita.
Dengan ungkapan pengalaman para pelacur ini, juga tidak dimaksudkan agar para “mitra seksual”nya atau pembeli komoditas seksnya, entah laki-laki, perempuan, gay dan lesbian, waria, atau siapa pun, untuk iba kepada mereka. Apalagi berpretensi untuk membuat mereka “lebih manusiawi” dalam memperlakukan para pelacur. “Bukankah hasrat seks yang menindas juga salah satu bentuk ungkapan kemanusiaan?” tanya Tari.
***
Seperti sudah kukatakan di depan, pisau analisis teori hanyalah alat kecil dalam proses panjang memahami fenomena prostitusi. Sekarang, kita coba bersama-sama memegang pisau kecil itu.
Salah satu hal yang membuat para feminis tidak sepakat adalah soal industri seks. Mereka yang sepakat pada banyak hal – keadilan ekonomi, “affirmative action”, bahkan kemerdekaan seks – seringkali bertentangan dalam soal pornografi dan prostitusi.
Kebanyakan feminis abad ke 19 menentang prostitusi dan menganggap para pelacur sebagai korban eksploitasi laki-laki. Tetapi ketika di ujung abad itu berbagai gerakan menyatu, begitu pula dengan para feminis dan keberatan-keberatan moral mereka terhadap prostitusi. Wanita, menurut argumen ini, adalah gudang dari kebijakan moral, dan prostitusi mencemari kesucian mereka. Penjualan seks, seperti alkohol, keduanya menyebabkan dan sekaligus gejala dari dekadensi yang membuat masyarakat tenggelam.
Pada dekade 1960-an dan 1970-an, ketika Betty Friedan dan Germaine Greer menegaskan bahwa kebebasan seksual adalah bagian integral dari kemerdekaan wanita, para feminis enggan menentang prostitusi atas dasar moralitas. Moralitas tradisional, menurut Greer, telah ikut membantu menindas perempuan secara seksual, membikin kebutuhan seksualnya hanya menjadi nomor dua setelah laki-laki. Subordinasi seksual ini memperparah subordinasi politik dan ekonomi.
Kini, sebagian feminis memandang pelacuran sebagai salah satu bentuk perbudakan seksual. Ada pula yang menganggapnya sebagai jalan menuju penentuan diri, paling tidak dalam aspek seksual. Dan di antara kedua pandangan itu, ada yang melihat prostitusi sebagai bentuk pekerjaan yang, suka atau tidak, memang ada.
Feminis radikal seperti pengacara Catharine MacKinnon dan teoritisi antipornografi Andrea Dworkin menentang pekerjaan seks dalam bentuk apa pun. Pekerjaan semacam itu, menurut mereka, hanya akan memperkuat status perempuan sebagai objek seksual dan menguliti banyak keuntungan yang pernah dimiliki wanita pada abad-abad lalu.
Ada pula feminis dan pihak-pihak yang mendeteksi sikap MacKinnon dan Dworkin ini (kelompok radikal antiprostitusi) sebagai galur baru Victorianisme, alias neo-Victorianisme. Suatu keyakinan bahwa para pelacur itu tidak tahu apa yang mereka lakukan dan membutuhkan orang lain yang lebih berpendidikan untuk melindungi mereka. Menurut para penentang ini, sebagian wanita itu, benar-benar memilih profesi sebagai pelacur. Sebuah pilihan sadar.
Para feminis yang mempertanyakan sikap radikal antiprostitusi ini juga menunjukkan bahwa Dworkin dan MacKinnon kadang-kadang terdengar mengerikan karena seakan-akan hendak balas dendam dengan landasan relijius. Phylllis Schlaffy, seorang pejuang nilai-nilai keluarga, bahkan mengutip Dworkin dalam bahan-bahan promosi antipornografinya. Padahal hal semacam ini tidak akan memperbaiki citra radikal di antara kalangan feminis.
Ekstrim lainnya, di ujung yang berseberangan dengan Dworkin dan MacKinnon, adalah para feminis radikal seks, seperti Susie Bright dan Pat Califia. Mereka menyatakan bahwa pekerjaan seks bisa menjadi hal yang baik: suatu bentuk pembebasan wanita yang sangat kuat, satu cara untuk mengontrol hidup wanita sendiri. Persoalannya, dalam hal ini, kehidupan sebagai pelacur itu seringkali lebih seperti film Leaving Las Vegas daripada Pretty Woman.
Banyak feminis berada di antara kedua ekstrim itu, antara feminis radikal dan seksual radikal. Wendy Chapkis, profesor sosiologi di Universitas Southern Maine dan penulis buku Live Sex Acts: Women Performing Erotic Labor (Routledge, 1997) adalah salah satu di antaranya. Selama sembilan tahun, Chapkis meneliti pelacuran di California dan Belanda, juga Inggris dan Finlandia. Ia mewawancarai 50 pekerja seks. Chapkis mengatakan ia melihat profesi itu sebagaimana adanya: banyak wawancaranya menggarisbawahi banyak keburukan yang ditunjukkan para pendukung feminis radikal, tapi juga menegaskan pemberdayaan seperti yang diajkan oleh golongan seks radikal.
“Prostitusi bukanlah puncak dari kemerdekaan wanita,” ujarnya. “Namun aku juga menganggap lebih baik memahaminya sebagai pekerjaan daripada salah satu bentuk kekerasan seksual yang tak terelakkan.” Apa yang dibutuhkan oleh para pelacur itu, menurutnya, bukanlah segerombolan perempuan berniat mulia yang menjaga diri mereka, yang melihat ke bawah, melainkan kondisi kerja yang lebih layak.
Chapkis percaya bahwa prostitusi musti di-dekriminalisasi. Hanya karena melacur adalah pekerjaan yang jelek, bukan berarti harus dihapuskan. Lagi pula, menurutnya, “Masih banyak pekerjaan lain di mana wanita juga digaji sangat murah, tidak dihargai dan dieksploitasi.” Meng-kriminalisasi profesi ini malah akan memperburuk persoalan-persoalan yang dihadapi para pelacur karena membuat mereka terisolasi dari hukum; malah meninggalkan mereka di tangan para juragan dan pria hidung belang yang bisa menyalahgunakan mereka. “Dalam profesi di mana wanita biasa diperlakukan tidak baik, tidak berdaya, dan seharusnya bisa pergi ke polisi untuk meminta perlindungan dan bantuan,” ujarnya, “kita malah membuat polisi menjadi tambahan persoalan baru bagi para pelacur, menjadi ancaman lain.”
Sebaliknya, di Belanda pelacuran telah dilegalisasi. Polisi dan pelacur berada di sisi yang sama. Para pelacur kerap diundang ke akademi kepolisian untuk mendidik polisi tentang seluk beluk pekerjaan mereka. Komunikasi semacam itu telah membuat kondisi kerja para wanita itu menjadi lebih aman dan layak.
Tapi bagaimana dengan pernyataan kaum feminis radikal bahwa pelacuran terlalu patriarkal untuk ditoleransi? Chapkis menunjukkan bahwa banyak hal dalam kehidupan modern mulai sebagai pranata patriarkis – perkawinan misalnya. Persoalan-persoalan dalam perkawinan, menurutnya, bisa diatasi tanpa harus membubarkan lembaga tersebut. Harta perkawinan kini bisa dibagi dengan lebih adil, dan para istri yang mengalami tindak kekerasan bisa pergi ke pusat-pusat trauma untuk mendapat pertolongan. Bahkan, Catharine MacKinnon akhirnya menemukan caranya sendiri untuk berdamai dengan ide menikah. Jadi, mengapa prostitusi tidak bisa mengalami transformasi yang serupa?
Tentu saja, Chapkis tidak terlalu naif untuk memandang pelacuran sebagai hal yang mulia. Tidak bisa menggeneralisasi semua kehidupan para pekerja seks. Ada pelacur jalanan yang merasa dirinya sangat berdaya, bisa mengontrol hidupnya sendiri dan merasa punya cukup uang. Tapi juga ada gadis-gadis panggilan kelas tinggi yang membenci pekerjaan mereka.
Apa pun yang terjadi, Chapkis yakin bahwa satu-satunya pilihan adalah dekriminalisasi, yang akan mencegah para pelacur ditangkap polisi. “Saya, sama dengan mereka yang ingin menghapus pelacuran, para abolisionis, ingin mengatasi persoalan-persoalan prostitusi, seperti kekerasan, penyalahgunaan obat, dan kemiskinan,” tegasnya. “Tetapi kita tidak bisa memecahkan persoalan-persoalan itu jika terus mengkriminalisasi prostitusi, dengan membuat mereka tetap berada di bawah tanah. Itu membuat para wanita itu sulit memperoleh akses untuk mendapat bantuan.”
Di mana posisi organisasi-organisasi pelacur? (Adakah organisasi serupa di Indonesia?) Tracy Quan, Direktur Organisasi Pelacur New York (PONY) yang punya anggota lebih dari 300 pekerja seks, sudah berada di dalam gerakan dekriminalisasi pelacuran sejak 1975. “Prostitusi adalah bagian dari masyarakat, apakah orang suka atau tidak,” ungkapnya. “Pelacuran harus diperlakukan seperti sebuah industri.”
Namun banyak pekerja yang sangat hati-hati untuk membedakan antara dekriminalisasi dengan legalisasi, yang akan menciptakan beberapa peraturan dan undang-undang baru yang mengatur industri tersebut. Legalisasi, diyakini oleh banyak pekerja seks dan para pendukungnya, hanya akan menambah beban dan tuntutan pada para wanita yang hidupnya sudah sangat sulit.
Carmen, wanita berumur 28 tahun yang sudah menjadi pekerja seks selama empat tahun, mempertanyakan manfaat legalisasi, seperti yang dijalankan di negara bagian Nevada, Amerika. “Dalam sistem yang berlaku sekarang,” katanya, “kalau kamu tertangkap, kamu dipenjara. Legalisasi sama saja. Kamu malah berada di dalam kerangkeng yang menetapkan ke mana kamu bisa pergi, kapan kamu boleh ke sana, dan siapa yang boleh bersamamu. Itu jelas tidak menguntungkan.”
Norma Jean Almodovar dari COYOTE (Call Off Your Old Tired Ethics), sebuah organisasi bantuan dan advokasi untuk pekerja industri seks, menjelaskan bahwa “mereka yang pernah menjadi pelacur menginginkan saudari-saudarinya yang masih bekerja untuk dibebaskan.” Quan menambahkan bahwa meski sebagian pelacur menganggap pelacuran legal seperti di Nevada cocok bagi mereka, tapi ada juga yang sengaja memilih tindakan ilegal karena mereka ingin mengontrol diri sendiri.
“Nevada tidak mendorong para pelacur untuk menjadi madam,” ujar Quan. “Dan bagi kita, ini sangat-sangat industri seperti karir lainnya. Kami ingin tahu apakah ada hirarki karir di mana mobilitas ke atas dimungkinkan.”
Dan banyak pelacur sinis terhadap pemerintah dan polisi, seperti juga terhadap juragan dan hidung belang. “Ada banyak contoh di mana pejabat penegak hukum malah menggunakan undang-undang sebagai bentuk pemerasan,” ujar Almodovar. “’Layani aku untuk mendapatkan ijinmu’ jelas bukan solusi, bahkan untuk para pelacur. Dono Baswardono Ph.D (hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengutip tanpa seijin penulis.)